Melbourne101: A rarely-discussed set of facts for Indonesian millennials

Jika dibaca dengan interpretasi fundamental, mungkin judul yang saya pakai untuk tulisan ini terkesan sentimental terhadap kelas sosial atau status sosioekononomi masyarakat tertentu. Hold on, saya juga millennial kelahiran 1992 korban kapitalisme modern dan era digital, kok (jadi marilah kita tumbuh dewasa dengan mengurangi kebiasaan menyimpulkan makna dari penggalan atau cuplikan pikiran seseorang tanpa memahami keseluruhan mindanya). Maaf saya jadi menggunakan prelude artikel ini dengan menjual pesan moral (but, sorry not sorry. Tee-hee).

Manakala saya datang ke Melbourne dan mencoba untuk beradaptasi, ada segelintir perbedaan yang saya jumpai perihal gaya hidup dan behaviours yang cukup signifikan. Oleh karenanya, saya ingin menyumbang sedikit perbendaharaan fakta yang menurut saya jarang dibahas oleh khalayak, terutama dalam wacana bersiap diri untuk hijrah ke benua terkecil dunia ini.

Oh, agar tidak menimbulkan reductionism dan/atau kesalahpahaman terhadap informasi dalam tulisan ini, harus saya akui bahwa konten di sini bukan fakta empiris atau universal, namun kebanyakan pengalaman pribadi (menurut Jean Clandinin dan Michael Connely, pengalaman juga salah satu cathexis dari fakta untuk dimaknai, jadi mari tidak menganggap remeh pengalaman dan memisahkannya dari fakta). Ya, apapun itu labelnya, saya harap tulisan ini bermanfaat bagi pembaca.

#1: Nongkrong di kedai kopi tidak dianjurkan terlalu lama. Sebagai millennial, di Indonesia saya sering menjumpai kawan di kedai kopi untuk mengobrol santai (sembari bersolek tentunya, karena kedai kopi juga butuh display pakaian yang tidak asal jadi, at least bagi saya). Mengingat mahalnya jasa untuk internet di Indonesia, saya terbiasa menghabiskan banyak waktu (dan kuota/data untuk internet) di kedai kopi karena berburu Wi-Fi gratis (yang sesungguhnya tidak gratis, karena saya harus membeli makanan/minuman sebagai prasyarat). Saya bisa menghabiskan banyak waktu menikmati layar komputer lipat dan menjelajahi ruang virtual dari jendela dunia yang terbuka lebar, dan dipastikan lebih dari satu jam. Namun di Australia, kebanyakan kedai kopi dipakai untuk bersilaturahmi dengan kerabat; bertukar informasi dan berkabar antar satu sama lain. Saya perhatikan, kebiasaan tersebut sangat mirip dengan narasi di drama Korea yang kita tonton: sedikit-sedikit bertemu orang di kedai kopi, untuk memperbincangkan hal yang memakan waktu yang bahkan kurang dari 15 menit. Ternyata hal itu teraplikasikan di sini, berbeda dengan fenomena kedai kopi di Indonesia yang sering dimaknai sebagai tempat singgah millennials untuk kurun waktu yang, err, tergolong lama. Terlebih, beberapa kedai kopi di Australia memberikan limit untuk penggunaan WiFi, so no exploitation allowed (tenang, internet di Australia terbilang murah, kalaupun ingin yang gratis, bisa pergi ke kampus dan perpustakaan umum). Kesimpulannya mungkin adalah ini: orang Indonesia agak chatty kalau sudah urusan bertemu teman, jadi biasanya kedai kopi menjadi saksi bisu tempat hiruk pikuk informasi berkeliaran antar mulut.

#2 fashion: functionality before vanity. Sebagai millenial, kecenderungan sebagai generasi terindikasi dari narsisme dan kesadaran akan nilai individu untuk menarik perhatian (ini bukan hal yang selamanya jelek, mari normalisasi narcissism dari peyorasi berlebih). Bagi saya, narsisme primer yang bergejolak sebagai sebuah gairah adalah eksibisi busana untuk menunjukan dan/atau membuat ungkapan publik atas identitas yang melekat dalam diri masing-masing. Busana bukan lagi perkara kelas dan harga, namun pesan yang tengah disampaikan inward out, menyamankan diri sendiri di tengah percakapan visual. Sebelum pergi ke Australia, saya termasuk yang sering bereksperimen dengan pakaian; warna menyuarakan kepribadian dan bentuk menumbuhkan kepercayaan diri. Semenjak di Australia, sejujurnya tak banyak yang berubah hanya saja saya belajar bahwa dominansi kepuasan pada busana yang dikenakan berjalan beriringan dengan fungsinya. Lebih dari keegoisan belaka, memilih tipe atau warna busana di Australia memiliki banyak variabel untuk diperhatikan secara fungsional. Sebagai contoh, para kaum muda yang bergravitasi di palet monokrom, perlu berpikir ulang untuk berbusana dalam nuansa dominan gelap di musim panas. Pun halnya perihal model; bagi yang biasa berbusana tertutup, pilihan ketebalan kain selayaknya dipertimbangkan dengan teliti, mengingat terik matahari yang bisa membuat kita jengah bermobilisasi.

#3 rejuvenate your Facebook account and behold: Line is not as popular. Sebelum saya bermigrasi ke Australia, akun Facebook saya mengalami mati suri cukup lama. Utamanya, alasan di balik itu adalah karena tidak banyak teman saya yang masih aktif “hidup” di sana. Pelengkapnya, alasan di balik mati surinya akun saya adalah karena banyak sekali users dan informasi di linimasa yang saya tidak kenali dan/atau bersifat mengganggu. Namun setelah berinteraksi dengan banyak mahasiswa lokal dan internasional, saya sadar bahwa Facebook bagi masyarakat Australia masih sangat relevan. Relevansinya bukan hanya sekedar pengecekan sesekali atau sentinel belaka, namun juga diseminasi informasi (yang tentunya harus diseriusi, bukan semata hoax), dengan konten yang penuh pengetahuan dan punya porsi edukatif (bukan semata narasi menyedihkan seperti cocoklogi atau glorifikasi black political campaign). Yang saya maksud di sini tidak otomatis menjatuhkan jenis informasi pada kategori “formal” atau “serius” saja–tentu ada juga yang meninggalkan jejak digitalnya melalui foto dan cerita menarik–namun intisari yang saya miliki adalah: Facebook is a relevant medium which should be handled seriously. Oleh karenanya, saya berpesan kepada pembaca untuk segera merapikan akun Facebook-nya; berhenti mengikuti akun yang tidak relevan atau membuat kesal jika dibaca agar avatar yang kita tampilkan dapat teraktualisasi dengan “sehat”. Sayang sekali apabila teman-teman melewatkan aktivitas di Facebook karena (jika berteman dengan pribadi yang baik dan bertanggung jawab) media sosial ini bisa sangat menguntungkan (bahkan ada beberapa mata kuliah/units yang mewajibkan saya aktif di Facebook). Di samping Facebook, saya berpendapat bahwa Line tidaklah begitu diberdayakan seperti di Indonesia. Kebanyakan jejaring komunikasi di kehidupan saya di Australia diselenggarakan melalui WhatsApp dan E-mail, oleh karenanya membentangkan bayang-bayang pada masa kejayaan Line yang pernah begitu menggugah selera bercengkerama di dunia virtual (masih ingat masa-masa Get Rich?). But, don’t kiss your Line account goodbye yet, karena dalam kasus saya, fasilitas free call di Line (baik voice atau video) masih sering lebih stabil dibanding WhatsApp. Sediakanlah memori yang cukup untuk di ponsel teman-teman untuk mengakomodir aplikasi-aplikasi tersebut agar semuanya bisa dipergunakan dengan baik.

#4 Never underestimate the ‘report’ option on your social media, especially on dating apps/sites. Tentu sebagai komunitas milenium, pilihan perihal jodoh bukan lagi sebatas pertemuan fisik dan jatuh cinta tak lagi terkungkung dalam ukuran pandangan pertama. Kaum milenial yang identik dengan otonomi pada dirinya dan kemahiran virtualisasi bisa diasumsikan terbiasa berkencan di penjelajahan situs internet, sebagai contoh adalah aplikasi Tinder. Sayangnya, perlu diketahui bahwa masyarakat di Australia yang bermain Tinder sangat beragam: dari yang (mayoritas) penggila seks, pribadi yang bermental tidak stabil, hingga mereka yang memang bisa diajak berbincang dengan normal. Hingga poin ini, saya hendak menggunakan pengalaman kerabat karib saya (tanpa izin, jadi anonim. Halo, kalau kamu kebetulan baca, jangan marah, ya). Ia pernah mengalami hal tidak mengenakan di Tinder. Entah mengapa, ada yang pernah menggunakan pilihan ‘report’ pada akun Tinder teman saya, yang berujung pada E-mail tak mengenakan dari aparat Australia (fortunately, the problem was solved without any further harms). Inilah yang saya maksud dengan mentalitas pengguna Tinder yang labil, mengusili teman saya hingga batas yang tidak wajar. Tapi, sisi baik dari permasalahan ini adalah: if others can click on the report option to us, so can we. Contohnya dalam skenario ini: apabila teman-teman nanti bertemu dengan penggila seks (yang acap kali mengirim foto tidak senonoh semacam genitalia secara tiba-tiba), kita bisa melaporkan mereka dengan tegas. Be safe, my friends.

#5 For those who smoke, get ready to be poor and a minority! (judul ini saya tulis dengan tone menyindir namun ceria, menyeringai seraya menabur confetti). Pertama, izinkan saya mengklarifikasi bahwa saya tidak mengeneralisir bahwa semua milenial adalah perokok, namun di kalangan pertemanan saya banyak sekali kaum milenial yang merokok (hanya demi argumen ini, mari menyerah dengan fakta bahwa merokok adalah hal umum di Indonesia). Saya adalah perokok dan Australia successfully punched me in the face dengan minimnya jumlah perokok dan luar biasa mahalnya harga tembakau. Saya ingin menangis (secara figuratif) ketika mengetahui bahwa harga rokok termurah dibandrol sebesar $16.5 per dua puluh batang (dan rokok putih sangat, sangat, sangat cepat habis. To make matter worse, tidak enak). Belum lagi prosedur jual-beli rokok yang ekstra-ketat (kita harus membawa dokumen resmi berisi data tanggal lahir dan foto, alhasil saya harus membawa paspor). Tidak ada satupun tempat umum yang menyediakan area merokok dalam ruangan, jadi waktu untuk merokok yang paling memungkinkan adalah ketika berjalan kaki. Kesedihan akan semakin menggentayangi karena merokok bukan lagi kegiatan komunal; jarang sekali saya menemukan teman yang juga merokok, jumlahnya sangat terhitung jari. Berkaca dari ini, ada baiknya teman-teman yang merokok mempertimbangkan untuk berhenti (ada layanan pemerintah yang senantiasa membantu kita melalui konsultasi gratis). Atau, untuk pribadi yang keras kepala dan rela membayar mahal seperti saya, akibat yang kita akan tanggung kemudian tidak lagi hanya ragam penyakit, namun LA yang terkuras dan kemungkinan besar untuk menjadi minoritas di tengah healthy lifestyle yang digalakan pemerintah Australia.

Sekian saya paparkan diskusi mengenai kehidupan di Melbourne yang saya rasa kurang mendapatkan spotlight untuk dibahas di banyak kesempatan. Bagi pembaca yang berharap ada 101 fakta sesuai judul, maaf jika nyatanya 101 itu saya gunakan sebagai istilah. Bagaimanapun, saya memiliki harapan besar semoga tulisan ini bermanfaat (entah tips-nya, humornya, atau apapun itu). Mari menghidupi pengalaman belajar di Australia dengan lebih siap dan produktif.

Terima kasih sudah membaca!

396 total views, 1 views today

Share This:

2 thoughts on “Melbourne101: A rarely-discussed set of facts for Indonesian millennials

    • Thanks, Indah udah dibaca tulisanku hehe.
      Walaupun kamu gak merokok, tapi bisalihat betapa jarangnya orang merokok dibanding di Indonesia, kan :’)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *