‘Mastering Theories is Not Enough, Bagging High GPA Does Not Say Much’: Sebuah Refleksi untuk Memaknai Ilmu

Menuntut ilmu yang tergolong tersier dalam pendidikan tinggi bukanlah sebuah prestisi yang dinilai dari besaran indeks prestasi kumulatif atau indikator numerik lainnya. Ilmu yang digali dalam tingkat master atau doktoral baiknya berupa niat yang otentik dari masing-masing individu yang mencari jawaban atas permasalahannya sendiri. Ini bukanlah kontes mengumpulkan atensi publik untuk mereka yang disematkan angka dalam jumlah besar, bukan pula semata kompetisi untuk mencari individu yang menguasai pengetahuan teoritis dari berbagai guru jenius di penjuru dunia. Berkuliah dalam tingkat pendidikan yang lebih tinggi di luar negeri bukan sebuah wacana dengan iming-iming rasa bangga karena berhasil mendapatkan ilmu di negara orang. Ilmu yang berbuah baik hanyalah satu yang dipilih karena makna yang kita genggam penuh kepercayaan terhadap ilmu tersebut. Pertanyaan yang wajib terjawab kemudian adalah: mengapa kamu mencari ilmu dan apa yang akan kamu lakukan dengan ilmu tersebut?

Saya memulai studi master saya dengan kebimbangan karena saya belum memiliki karir yang stabil dalam hidup saya. Saya hanyalah seorang lulusan universitas dengan gelar Sarjana Pendidikan dalam bidang bahasa Inggris. Pengalaman mengajar saya tak lebih dari dua setengah tahun dan mnemonic saya untuk melihat realita hanya terbatas dalam wacana di internet (karena saya tidak berkesempatan untuk menjelajah belahan dunia yang lain sebab tak punya modal dan tak memiliki hobi traveling). Saya hanyalah seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun dengan minda yang terisi informasi dari buku teks dan nalar yang terasah hanya karena tuntutan kuliah dan hobi berdebat dalam komunitas. Perlu saya akui, saya pernah berbangga dengan prestasi minimum tersebut; saya puas dengan IPK tinggi, pengetahuan akan teori, dan kemampuan berpikir kritis semata karena mendapat nilai yang besar hasil berargumen dalam skripsi dan essay. Alih-alih bermaksud sombong, refleksi ini justru adalah kejujuran saya: itu semua tidak cukup untuk dijadikan sebagai alasan melanjutkan kuliah ke tingkat master.

Ketika saya menginjakan kaki saya di Australia, saya mendapatkan sebuah teguran psikis yang membuat saya berpikir “akan saya apakan kesempatan menggali ilmu ini?“.

Pendidikan yang saya dapat di negeri kangguru ini sangat terbuka—satu hal yang jarang saya jumpai di Indonesia. Saya diberikan kepercayaan yang sangat besar oleh dosen dan tutor saya untuk memilih konteks yang paling intim dengan identitas dan realita yang saya miliki. Dengan pendekatan inquiry-based, saya dituntut untuk menjadi akademisi yang mandiri dan reflektif terhadap isu yang kontekstual dengan pengalaman dan pemahaman saya secara personal; ilmu menjadi sesuatu yang sangat lokal dan pribadi. Ilmu tidak lagi disuguhkan dalam pagar-pagar yang membatasi pengetahuan, bukan lagi sebuah teks yang maknanya eksklusif dan universal, bukan pula suguhan materi perkuliahan untuk dihapal. Dihadapi dengan situasi ini, saya kerap berdialog secara interior, mendiskusikan siapa diri saya, apa yang tengah saya lakukan dengan topik yang saya pilih, dan apakah saya percaya bahwa setiap argumen yang saya bangun akan saya laksanakan secara realistis. Kompilasi diskusi tersebut secara konstan memaksa saya untuk merevisi dan merevisitasi visi saya sebagai seorang akademisi karena, jujur saja, saya masih meninggalkan banyak halaman kosong di buku kehidupan saya—termasuk visi dan misi setelah berhasil menyandang gelar master kelak.

Bukan berarti saya tidak memiliki mimpi, tentu saja saya punya. Hanya saya mengakui, mimpi yang saya miliki masih tidak berpola rapi meski bentuknya sudah ada. To make matter worse, mimpi penuh harapan itu mungkin hanya bias dari cahaya yang dipantulkan mimpi orang lain, di mana maknanya hanyalah sebuah duplikasi dan ilmu yang saya punya untuk menghidupi mimpi itu tidak kunjung tepat sasaran. Alhasil, studi master ini saya jadikan garis start untuk lebih mengenal diri saya, melihat tidak hanya potensi, namun juga destinasi sesungguhnya untuk ilmu yang saya gali. Saya tidak boleh hanya berdialektika dengan pemikir-pemikir cerdas dalam teori (apalagi hanya mengamini mereka), namun saya juga harus berdialektika dengan multitudes of myself. Saya harus mendapat persetujuan yang mufakat dengan seluruh senses dalam diri ini agar ilmu saya mempunyai makna, oleh karenanya saya mampu mempercayai bahwa ilmu tersebut bukan semata asupan kognitif, namun kontribusi nyata. Tidak cukup dilabeli theories, namun praxis.

Saya ingin berbagi tiga pesan untuk teman-teman yang sedang membaca tulisan ini. Bukan berarti saya sudah berhasil menaatinya, namun ini adalah mantra yang tengah saya kumandangkan dalam diri saya. Semoga bermanfaat.

Pertama, Jangan terbuai hanya dengan ilmu teoritis, namun perkaya diri juga dengan ilmu faktual. Seimbangkan waktu membaca buku teks dan artikel jurnal dengan membaca berita di koran atau webmagazine mengenai bidang yang teman-teman sedang dalami. Kembalikan diri kita ke wacana yang berporos pada realita di dunia tempat kita tinggal, bukan hanya pemikiran asing yang berjarak jauh. Setelah menemukan keseimbangan, kita dapat mencari diri kita di tengah-tengah argumen yang muncul dari teori dan berita. Kita memilih what matters dan which stance we will advocate with our knowledge. Saya berpendapat, terkadang ilmu menjadi percuma bila maknanya sekedar “saya tahu, ini masalahnya, dan ini solusinya” karena ada kecenderungan narasi yang muncul berbeda dengan fenomena di masyarakat. Ilmu yang baik terasah dengan aktualisasi tanpa henti seiring dengan sikap dan aksi yang diejawantahkan dalam masyarakat. Dengan begini, ilmu yang kita miliki tidak akan terperangkap dalam definisi simplistik dan kepercayaan yang utopic—seolah-olah semuanya sudah pernah dibahas dan solusinya sudah matang disuguhkan dalam buku teks dan artikel jurnal. Ilmu yang kita miliki seyogianya dikonstruksi melalui jalur yang reciprocal—bulak-balik: apa yang theorists katakan, apa yang dunia pertontonkan, hingga apa yang kita pahami. Pada akhirnya, studi kita adalah upaya untuk membangun argumen atas kepercayaan yang kita pilih secara intersubjektif. Yes, it is all about you.

Kedua, jangan lupa kita adalah subjek ilmu kita sendiri. Kita tidak boleh terlena dengan konteks orang lain—terutama theorists yang namanya sudah besar disanjung khalayak ramai. Dalam teori yang mereka postulasi, mereka membawa konteks yang (sangat) mungkin berbeda dengan tempat kita berasal. Oleh karenanya, kita harus siap untuk tidak setuju dan berdebat setelahnya. Bawalah konteks kita—identitas, kepercayaan, norma, ideologi—seraya mencari ilmu. Posisikan diri kita sebagai bagian dari konteks yang kita punya untuk melihat, mendiskusikan, dan menyelesaikan masalah. Sudah saatnya kita meninggalkan kebiasaan mencari topik hanya karena alasan praktikal atau kebetulan sedang ramai dibicarakan. Kita tidak mencari ilmu dalam dikotomi mudah/sulit, baru/lama, atau perihal teori canonical/contemporary. Bagi saya, mencari ilmu seharusnya didasari dengan kejujuran diri kita yang melihat, merasakan, atau mengalami sebuah masalah untuk didiskusikan because we are being engulfed within it and we trust every knowledge we share of which we are disposed. Tak jarang kita lupa pentingnya merasakan ketika membicarakan, seolah apa yang kita tengah perdebatkan dalam ilmu bukanlah makna yang riil dan pengalaman yang penuh akan emosi, harapan, dan perubahan. Ketika kita berniat mencari ilmu, segalanya bergravitasi di sekitar otonomi kita, untuk itu saya percaya bahwa kita harus mengerti dan merasakan ilmu ketika memaknainya. Saya percaya hal ini akan membuat ilmu yang kita punya jauh lebih kontributif.

Ketiga, utamanya untuk teman-teman yang belum memiliki posisi strategis atau bagian dari entitas sebagai tempat kembali pasca-studi, jangan khawatir. Meski akan lebih mudah bagi kita untuk memaknai ilmu bila kita sudah menjadi bagian dari sebuah situs profesional, namun perjalanan studi master adalah masa kritis untuk menyusun mimpi kita. Pergunakan waktu kita untuk membuat refleksi dan komparasi atas ekspektasi yang menggantung dalam keputusan kita selama ini. Bila terasa berat, tanggalkan mereka dan jangan buang waktu mengejar ilmu untuk mimpi orang lain atau prinsip yang tidak kita junjung. Mari mencari diri sendiri di titi mangsa yang berlomba meyakinkan kita akan sebuah hal dengan cermat untuk kemudian memfinalisasi visi dan misi yang memiliki makna lebih kuat dengan apa yang kita miliki sekarang. Jangan takut untuk mendengarkan desire kita manakala dia berkata “take the other way around”, karena pemaknaan ilmu kita yang utama harus memprioritaskan kejujuran, khususnya bagi diri sendiri.

Itulah yang saya bisa suguhkan dalam tulisan ini. Semoga kita semua bisa lebih giat lagi mempersonalisasikan ilmu yang kita gali/dapat, agar kesempatan belajar ini tidak sia-sia atau menjadi lembaran kertas yang maknanya hanya untuk diberikan angka dengan tinta merah.

 

Tian

Master of Education, Monash University

tmput2@student.monash.edu

1,288 total views, 1 views today

Share This:

6 thoughts on “‘Mastering Theories is Not Enough, Bagging High GPA Does Not Say Much’: Sebuah Refleksi untuk Memaknai Ilmu

  • Insight yang sangat menarik. Saya berpendapat bahwa program undergraduate didesain sebagai fundamen, basis yang memberikan dasar-dasar berharga dalam membangun kerangka keilmuan (termasuk teori, pengetahuan definitif, dan lain sebagainya). Sangat setuju dengan artikel ini bahwa program post-graduate sudah selayaknya membuat pikiran kita tidak lagi terkungkung hanya dalam batas nilai-nilai akademik, tetapi sudah harus diarahkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ingin kita cari solusinya dengan nalar analitik dan kritis.

    • Could not agree more, mas Abi. Seperti yang mas Abi sampaikan, saya berharap pembaca (utamanya yang sedang mengemban pendidikan master) dapat belajar dari tulisan ini, termasuk saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *