Apakah kita benar-benar belajar?: Sebuah refleksi terhadap pembelajaran di pendidikan tinggi di Australia

Siapa yang pernah mengalami pembalajaran yang begitu terkontrol–tidak banyak ruang eksplorasi untuk mengekspresikan rasa penasaran dan mengejawantahkan kreativitas kita? Siapa yang pernah merasa bahwa belajar adalah sebuah proses yang endpoint-nya hanyalah lampu hijau dari guru atau the More Knowledgable Other (as Vygotsky would call it)? Siapa yang pernah mengira bahwa pembelajaran tak ubahnya adalah kemampuan kita mengenal sistem di situs persekolahan, menggugurkan kewajiban melalui strategi untuk menjalankan yang dianjurkan, menjauhi yang tak pernah dibahas, dan menelan bulat-bulat yang diperintahkan, tentunya agar nilai kita aman? Saya pernah. Apakah teman-teman juga?

It’s a relief that we have moved past the harrowing period of that fallacious ‘learning’. Australia untungnya tidak mempersembahkan saya sebuah pembelajaran yang ilmunya berkarat dilahap api yang tua dan konstan, bukan lagi sebuah perkara untuk mendalami pengetahuan yang usang. Tidak ada tutor atau dosen yang merangkap jabatan sebagai algojo mahatahu yang selalu siap memenggal kepala saya ketika luaran belajar saya tidak sesuai pengharapan pribadinya. Belajar bukan lagi imitasi dalam diam atau replikasi di atas bungkam, karena kini debat adalah hal yang wajar. Saya boleh menyetujui apa yang dosen saya tidak setujui, atau sebaliknya. Kuncinya hanya satu: bertanggung jawab dalam menyuguhkan argumen guna membuktikan apa yang saya hendak setujui dengan matang.

All thanks to inquiry-based learning in use.

Pendidikan tingkat lanjutan di Australia umumnya berkonsep mandiri dan menitiberatkan pembelajaran pada kebebasan berpikir dan etos kerja siswa yang tergolong lebih otonom. Pembelajaran diprogram melalui pendekatan inquiry-based learning: belajar sebagai proses yang sentral pada kemampuan individu mencuatkan pertanyaan substansial dari fenomena yang ia lihat, mempermasalahkannya, hingga mendiskusikannya dari perspektif dan posisi yang spesifik dan argumentasi personal untuk menyumbangkan kebaruan dari sebuah ilmu.

Di balik manfaat yang ditawarkan oleh pendekatan ini, saya menemukan sebuah masalah yang timbul sebagai dampak yang tak terbendung. Kemandirian sebagai ciri inquiry-based learning juga memiliki mata pisau yang runcing di sisinya yang berlawanan, karena ia membuka sebuah kesempatan bagi kita untuk terjebak dalam pembelajaran yang tidak berprogres. Tentu saja progres akan sangat mudah terlihat apabila kita hanya mengukurnya dengan angka dan pengetahuan dari halaman buku yang diwajibkan untuk dibaca. Namun, bila kita merenungkan kualitas keilmuan yang kita emban, di luar angka-angka elusif dan pengetahuan superfisial, apakah betul kita sedang belajar dengan mandiri? Atau justru kita hanya sedang belajar dengan ilmu yang itu-itu saja, pengetahuan yang tidak bervisi dan kilasan temporer belaka, dan kompilasi diskusi yang sesungguhnya berupa kumpulan anekdot dari yang lalu, hanya saja terkemas dalam sistem belajar yang baru dan lebih baik?

Saya rasa belajar tidak seharusnya seperti itu. Belajar adalah pengalaman yang dinamis di mana seseorang berdialog dengan pengetahuan yang sudah bersemayam dalam dirinya, dan secara reguler mengawinkan hal baru dengan yang lampau. Terkadang, pengorbanan untuk mengkhianati yang sudah stabil dan terjaga dengan baik adalah makna belajar itu sendiri. Menurut saya, satu-satunya keraguan yang benar dalam sebuah pembelajaran adalah ragu untuk berpuas diri menikmati topik yang jelas sudah terkuasai, argumen yang sudah terbentuk, dan kemudahan berpikir yang melihat masalah dari muka solusi yang sudah ada. Terlebih lagi, saya percaya bahwa pembelajaran di tingkat master selayaknya tidak disibukkan dengan aktivitas mengitari pengetahuan yang sudah lama tertanam dalam diri kita, namun perihal bereksperimen dengan hal-hal yang baru, meskipun masih dalam area yang serupa. Untuk itu, saya ingin berbagi gagasan dengan pembaca mengenai bagaimana baiknya kita memastikan bahwa pembelajaran telah benar terjadi dalam studi kita. Inilah enam poin yang menurut saya penting untuk menyadari seberapa substansial dan berprogresnya pembelajaran kita:

Mulai mencari topik pembelajaran melalui penulusuran wacana di media massa. Kebanyakan units meminta mahasiswa untuk menemukan topik untuk diteliti dari sebuah permasalahan wacana keilmuan. Umumnya begitulah pembelajaran di sebuah unit diselenggarakan; dosen akan menilai kemampuan kita berpikir kritis dari kualitas pembahasan sebuah fenomena yang kita suguhkan (apalagi dalam domain ilmu sosial-humaniora). Hanya dari satu episteme keilmuan saja, fragmen diskusi yang dapat dijadikan topik bisa sangat beragam. Lantas bagaimana kita bisa menemukan topik yang tepat untuk diteliti lebih lanjut? Apakah baiknya kita membahas saja apa yang kita sudah pahami betul? Apakah baiknya kita membahas saja permasalahan yang sudah kerap kali diberikan solusi? Apakah baiknya kita membahas saja kualitas solusi itu, meskipun sudah ramai dikritik khalayak? Saya tidak melihat itu semua sebagai hal yang terbaik. Bagi saya, hal yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah mengembalikan diri pada penelusuran pengetahuan di media massa–tempatnya realitas terbaru tercerminkan dengan rutin. Media massa mampu membuat kita dekat dengan permasalahan yang timbul secara riil dan kontekstual. Dalam media massa (yang baik dan terpercaya tentunya), kita memiliki kemungkinan lebih besar untuk menemukan permasalahan, setidaknya masalah bagi diri kita sendiri: dalam topik apa kita “bermasalah” atau “dipermasalahkan”. Patut disayangkan bahwasanya pengetahuan di media massa adalah sumber komplementer yang kerap terlampaui oleh pesona artikel jurnal dan buku teks, padahal topik yang hangat adalah umpan diskusi yang justru lebih menggugah selera para dosen. Pembeda yang paling kentara dari pengetahuan yang disuguhkan antara dokumen akademik dan media massa adalah periode dan pengalaman; jangan sampai pengetahuan yang mendasari pencarian topik kita terjebak dalam periode yang tidak teraktualisasi dan pengalaman yang teralienasi menjadi fenomena yang membeku dalam klausa besutan para teoris atau penulis jurnal. Perlu adanya keseimbangan antara motivasi ilmu akademik dengan berita aktual agar kita mampu mempermasalahkan sebuah topik dari lensa pengetahuan yang lebih holistik.

Hentikan diskusi yang sirkuler, jangan hindari konflik, kontradiksi, dan ketidaktahuan. Adalah lumrah ketika kita merasa ragu untuk memilih topik diskusi/riset yang sarat konflik, mencuatkan kontradiksi dari kepercayaan mayoritas, umumnya karena kita tidak banyak tahu. Hal ini tak jarang membuat kita berdiskusi secara sirkuler, atau di situ-situ saja. Seperti uroboros, sirkulerisme berpikir seolah menggerogoti cerminan diri kita yang mati dilahap ilmu yang stagnan; setelah tahu, selesai. Self-abnegation is pretty much suicidal. Oleh karenanya, sebuah kreasi yang berani sangat diperlukan untuk selalu menjamah area baru, termasuk wacana yang berkonflik, kontradiktif, dan tidak kita ketahui. Banyak sekali area yang umumnya dilabeli sebagai ruang-ruang tabu untuk kita dekonstruksi perlahan secara akademik, namun terhalangi oleh keseganan melangkah karena takut akan kesalahan atau bahaya nirlogisme. Menurut saya, perjalanan untuk mengetahui yang tidak diketahui adalah bentuk pembelajaran yang paling esensial. Agar kita mengetahui mengapa yang kita ketahui berterima dalam akal, kita seharusnya memahami mengapa varian pemikiran bisa timbul, meski beberapa dari mereka menimbulkan konflik. Pembelajaran adalah ketika pengetahuan kita berhasil membuat makna pada sebuah kontradiksi; mencari rasionalitas dari pihak yang acap kali tidak terpercayai, dan menggunakan skeptisisme proporsional kepada pihak yang sangat populer dipercayai. Kala menelusuri literatur untuk memperbincangkan topik yang kita pilih, mari kita masukan kata kunci di Google/library search yang menavigasi pengetahuan oposisi dari yang kita tahu/percaya. Sempurnakan pemahaman kita dengan mempelajari interlokusi dengan pendapat lawan. Saya percaya diskusi yang baik justru adalah yang berani memperbincangkan topik yang sensitif dan menyuarakan konflik, mengikutsertakan debat besar yang saling mengkontradiksi mereka yang terbilang “benar” dan “salah”.

Bersilaturahmi dengan para teoris terkemuka adalah kebutuhan, namun jangan cepat kenyang adalah upaya yang kini sedang saya kerahkan agar ilmu saya tidak terproduksi sebagai sheer conformity. Menguasai teori memang merupakan sebuah kewajiban dalam pembelajaran, namun ia bukanlah segalanya; theories are never the herald of truth, in fact, any truths. Rather, they are only a lens on how we reflect to our realities. Saya mengerahkan upaya saya agar tidak terlena dengan kenyataan yang dinarasikan begitu meyakinkannya dalam teori, menolak untuk berpasrah pada pemahaman yang dihadiahi. Pembelajaran bagi saya tidak pernah berbentuk hadiah, melainkan sebuah proses yang berpusat pada sentralitas diri yang secara aktif memahami, mempertanyakan, dan mempercayai sebuah rujukan. Jangan sampai keaktifan itu hilang karena erosi yang asing dari realita milik para teoris. Memahami apa yang diindahkan teori tidak semerta membuat kita belajar. Belajar justru dimulai setelah kita berdiri menyikapi apa yang teori tersebut persuasikan pada pemahaman kita. Jika harga yang harus dibayar agar kita mampu belajar adalah kontestasi pada teori (bahkan canonical thinking sekalipun), sudah sepatutnya kita membekali diri dengan argumen yang baik untuk mempresentasikan ketidakpercayaan kita.

Apabila masih terasa dekat, jauhi Indonesia. Apabila merasa tersesat, ingatlah Indonesia. Manakala mencari konteks pada topik pembelajaran, saya mendapat banyak sekali bantuan dari identitas pribadi. Ilmu kembali saya pusatkan pada segala yang menyangkut jati diri dan kehidupan saya, termasuk identitas nasional yang tersemat pada minda dan tubuh saya. Itulah sebabnya saya sering menggunakan Indonesia sebagai variabel untuk mengukur sejauh apa saya membuat progres belajar. Skenarionya ada dua: kala saya merasa bahwa topik yang saya pilih dalam esai sangat spesifik, ergosentris, dan terlalu berbau “tradisional”, saya mencoba untuk menjauhi Indonesia. Masa itu adalah pertanda bahwa saya harus melebarkan pemahaman saya tidak hanya dari realita terdekat, namun meluas ke realita orang lain di situs berbeda. Jika ternyata Indonesia begitu mencintai pendidikan berbasis teologi sebagai pembentukan karakter siswa, bagaimana dengan negara lain? Tidak perlu selalu yang dicap adidaya, yang berkonteks seperti Finlandia pun berarti besar. Petualangan literatur seperti ini memberikan banyak kesempatan untuk memberikan evaluasi pada pengetahuan kita yang terdahulu, dan tak lupa juga memperkuat ketersambungan pengetahuan multikonteks. Hal ini berlaku secara reciprocal; ketika pengetahuan kita terlalu mendasar pada pendapat dari sumber mancanegara, luangkan waktu untuk menengok Indonesia, because the most fundamental definition of learners is that learners are who they truly are.

Jangan lupakan emosi dan perasaan ketika menulis atau riset; mempelajari sebuah ilmu adalah sebuah fungsi, bukan fiksi. Saya percaya bahwa mempelajari ilmu dalam kesempatan yang istimewa ini bukanlah aktivitas yang terhindar dari perasaan. Saya salah satu dari yang percaya bahwa emosi adalah sebuah motivasi terbaik yang mendorong kita untuk belajar. Oleh karenanya, mari mencoba untuk mendengarkan perasaan kita dan membuat makna dari emosi yang timbul dalam diri kita untuk belajar. Contoh terbaiknya adalah seperti ini: ketika kita memilih topik yang bagus untuk didiskusikan, bukan berarti kita hendak mengarang sebuah fiksi. Setiap masalah, masyarakat, dan/atau partisipan yang kita bicarakan dalam esai adalah insan yang hidup. Ketika kita mengangkat masalah berkenaan dengan praktek pendidikan yang tidak adil, gunakanlah perasaan kita untuk membuktikan bahwa ketidakadilan itu nyata. Kita sedang mengadvokasi siswa yang betul-betul dirugikan. Bukan hanya keunggulan pembuktian statistika, namun deskripsi emosional yang mentransfer bentuk-bentuk empati pada pembaca adalah bukti bahwa kita betul-betul belajar. Pembelajaran yang kita kerahkan sebagai upaya adalah fungsi untuk menyuarakan ketidakadilan itu pada dunia nyata. Baiknya, kita merasakan apa yang kita tulis untuk menakar seberapa jauh kita sebetulnya telah belajar.

Apa yang akan kita lakukan dengan esei kita? Inilah poin terakhir di mana tulisan saya akan berlabuh. Saya tidak mampu memberikan pendapat pada saat ini karena saya belum sampai di sana. Esai atau tulisan kita adalah bukti paling nyata dari hasil belajar kita. Di sana, semua progres tercatat dan pencapaian kita terdokumentasi. Mari kita lihat, apakah kita betul-betul belajar?

597 total views, 1 views today

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *