Catatan Akhir Semester: Belajar itu Soal Proses, Kawan!

Semalam, seperti biasa setelah shalat Magrib saya mengajak anak lanang saya belajar mengaji menggunakan buku Iqra’. Si abang kecil tampak ogah-ogahan untuk memulainya. Saya tanya kenapa, katanya “ngajinya sekarang susaaah, Ummiii…!” Putra saya sedang berusaha menyelesaikan Iqra’ jilid dua, tinggal tiga lembar lagi dia naik level ke jilid tiga. Hanya saja, dia merasa malas karena pelajarannya semakin menantang. Pelajaran di Iqra’ memang bertahap, semakin tinggi levelnya maka semakin sulit. Tadinya hanya mengenal huruf Hijaiyah satu per satu, lalu beberapa huruf yang dirangkai menjadi satu kata, dan sekarang dia mempelajari bacaan panjang-pendek. Nanti di jilid tiga dia akan menemukan tanda baca yang berbeda dari yang ia pelajari sekarang, dan seterusnya.

Lalu dengan ringan saya nasihati dia “Ya, namanya juga belajar, Nak. Dalam belajar, kalau makin lama makin susah ya wajar. Makanya, kita latihan terus supaya bisa. Kalau menyerah, ya nggak bisa-bisa.”

Mendadak saya tertegun. Kok sepertinya saya lagi ngomong sama diri sendiri, ya? *elus dagu*

Di semester pertama lalu, saya pernah menangis sesenggukan di tengah malam karena merasa tidak mampu menyelesaikan paper tugas plus panik karena deadline sudah dekat. Saya membutuhkan bantuan segelas besar hot chocolate di tengah malam itu supaya bisa kembali tenang (nggak juga sih, ini mah saya aja yang pengen). Pada akhirnya sih berhasil juga di-submit itu tugas, walaupun telat dua jam dan hasilnya kurang maksimal. Saya kemudian mencoba berefleksi mengapa itu terjadi. Oh, pasti karena saya belum menemukan ritme belajar dan mengerjakan tugas yang oke. Proses membuat sebuah makalah kan, tidak pendek ya. Ada acara mencari inspirasi, mencari bahan bacaan, membaca, membuat kerangka, mulai membuat tulisan, dan seterusnya. Satu lagi, karena saya suka menunda-nunda, buka laptop bukannya baca artikel jurnal malah fesbukan dan belanja online *jitak kepala sendiri. Buktinya, ketika saya mendedikasikan satu bulan penuh untuk proses penyelesaian dua biji makalah di akhir semester, alhamdulillah saya bisa melaluinya dengan baik. Okesip, begitu saya pikir. Semester dua nanti pasti akan terasa lebih mudah kalau ritme belajarnya seperti itu.

Ternyata saya salah besar, Kawan!

Ritme belajar sih sudah ketemu, tapi salah satu mata kuliah yang saya ambil ternyata susah. Pertama, saya tidak begitu memahami isu-isu kunci yang diangkat dalam mata kuliah ini. Kedua, saat ingin belajar khusyuk biar paham, eh bacaannya membutuhkan kemampuan reading comprehension tingkat tinggi. Sementara kemampuan saya? Ah, tanyakan saja pada rumput yang bergoyang. Kondisi saya dalam memahami bacaan semester ini seperti cacing tanah kena garam di bawah sinar matahari: merayap-rayap sambil menggelepar-gelepar. Banyak istilah yang susah dipahami dan kebanyakan artikelnya panjang sekali.

Sebagai informasi, saking niatnya saya memperbaiki diri di semester ini, saya sengaja berhenti sejenak mengakses akun Facebook saya, sejak semester dimulai hingga saat ini. Jadi, sudah sekitar empat bulan puasa Facebook. Ini karena saya menemukan kebiasaan saya mengakses Facebook terlalu lama menjadi salah satu faktor rendahnya produktivitas saya di semester pertama. Khusus untuk tugas akhir, saya mempersiapkannya sebulan lebih. Tapi tetap saja saya kelimpungan. Saya tidak menyesali keputusan saya mengambil mata kuliah ini. Namun, seandainya saya tahu akan begini jadinya, tentu saya akan pilih mata kuliah lain. Eh, sama aja ya.

Mungkin saya sedikit berlebihan, tapi demikianlah yang saya hadapi. Ini mungkin juga karena saya sudah lama sekali terpisah dari dunia akademik. Sejak wisuda S1 tahun 2008 (aduh, ketahuan ya saya angkatan ancient), saya otomatis lepas dari alam akademik. Saya jadi kutu loncat di beberapa bidang pekerjaan bahkan sempat istirahat bekerja selama hampir dua tahun karena mengasuh anak. Pekerjaan terakhir saya di kampus, namun tidak mengajar. Saya juga selalu aktif menulis namun kebanyakan ber-genre populer. Keterampilan menulis dan logika berpikir akademik sudah saya tinggalkan di kampus usai saya mengembalikan toga. Maka rasanya sulit sekali kembali menyesuaikan diri dengan iklim akademik apalagi dengan standar yang sangat tinggi.

Akan tetapi, Kawan.

Setelah saya pikir-pikir lagi, justru di situlah proses belajar saya. Sebuah proses terjadi ketika sambil melakukan brainstorming ide, otak saya justru menegasikan argumen-argumen yang saya susun. Ada proses yang terjadi ketika sambil menulis, saya meragukan apa yang saya tulis. Ada proses ketika dua minggu sebelum deadline saya mengganti topik untuk kelima kalinya. Ada pula proses, ketika saya membaca ulang tulisan yang sudah jadi dan bertanya “what the heck are you talking about, Tiwi?” lalu berpikir untuk tidak usah submit saja tugasnya, angkat kaki pulang ke Indonesia sehingga bisa mengakhiri ini semua.

Namun di tengah pergumulan batin yang tidak jelas itu, ternyata saya belajar mempertemukan ide praktis dengan kerangka teori dan konsep. Saya belajar melemparkan critical question, lalu menyokong argument menggunakan evidence dalam tulisan. Terlebih, dalam proses itu pula, saya mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya selama ini. Pada saat memulai kuliah S2 Ilmu Komunikasi di Monash University, saya memang bertekad untuk menjadikan keresahan-keresahan saya di dunia komunikasi dan media sebagai topik riset. Saya, misalnya, bertanya mengapa berita hoax di sosial media mudah sekali menjadi viral. Saya heran mengapa orang-orang terdidik bisa saling memaki satu sama lain di jagad internet, macam mereka tak pernah diajari etika sama gurunya. Saya ingin tahu kenapa perbedaan pilihan antara Jokowi dan Prabowo bisa bikin orang adu panco bahkan berhenti berteman di Twitter. Saya heran kenapa RCTI masih boleh menayangkan sinetron picisan dan TVOne belum dibredel *eh*, dan lain-lain. Saya selalu menjadikan isu-isu media di Indonesia sebagai bahan dasar tugas. Nah, di proses belajar yang penuh tangisan, indomi, hot chocolate dan cemilan di tengah malam itulah saya mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu: lewat bacaan tentang hasil riset orang, berlembar-lembar penjelasan tentang teori dan konsep, serta diskusi dengan teman-teman sekelas, dosen, atau tutor.

Pada akhirnya, rasanya puas sekali ketika berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, terlepas dari berapapun nilai yang saya dapatkan. Jangan dulu memusingkan nilai, berhasil submit tepat waktu dan masih hidup setelahnya saja sudah syukur alhamdulillah. Tapi setidaknya, jumlah tanda tanya di otak saya berkurang satu persatu, kebingungan saya akan fenomena media bisa terurai. Tanpa kuliah S2 dan mempelajari semua sisi media, mungkin saya tak akan pernah bisa menjelaskan kepada anak saya kenapa orang jahat di televisi matanya selalu melotot dan mulutnya selalu komat-kamit (eh, masih begitu tidak? Sudah lewat 57 kali gerhana matahari sejak terakhir kali saya nonton sinetron Indonesia, jadi kurang updated).

Jadi, Kawan.

Jika kamu sekarang masih berkutat dengan tugas dan ujian, bersemangatlah! Jawaban itu ada di depan sana, menunggumu menggapainya. Rawatlah proses belajarmu dengan kesungguhan. Sambil tolong ingatkan saya bahwa semester depan dan depannya lagi kemungkinan besar akan semakin susah. Tapi untuk itulah kita belajar, ya kan, supaya bisa, dan hei, bukankah hasil tak pernah mengkhianati usaha?

Sementara saya, yang sudah selesai semua tugas dan tidak ada ujian *sebentar mau goyang dumang dulu*, hanya bisa mendoakan kesuksesan dan kesehatan teman-teman. Jangan lupa seduh segelas hot chocolate biar tetap tenang, dan mari bersulang! 🙂

 

414 total views, 2 views today

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *