Mendidik Pahlawan Masa Depan

Kalau dulu para pahlawan berjuang dengan bambu runcing untuk mengusir penjajah demi kemerdekaan Indonesia, sekarang giliran kita memerangi kebodohan menggunakan pena (pendidikan) untuk kemakmuran bangsa. Dan telah banyak penelitian yang menunjukkan pengaruh pendidikan terhadap kesejahteraan suatu masyarakat negara. Indonesia sepertinya sedang berjalan (kalau tidak ingin dikatakan ‘merangkak’) menuju pembenahan kualitas pendidikan Tanah Air yang masih belum merata di daerah-daerah, seperti dengan mengalokasikan 20% APBN untuk pendidikan.

Sadar akan pentingnya peran SDM untuk mengelola SDA negara yang sangat berlimpah ini mendorong pemerintah untuk banyak berinvestasi dalam mendidik anak bangsa yang nantinya akan menyambut estafet perjuangan dan bukan tidak mungkin menjadi pahlawan bangsa di kemudian hari. Salah satu usaha pemerintah itu adalah dengan mendirikan lembaga independen luas dikenal dengan nama LPDP, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan, yang memiliki dana abadi dari DPPN yang nominalnya mencapai 20 triliun.

Sampai saat ini LPDP telah mengirimkan lebih dari 10 ribu awardee untuk menempuh studi S2 dan S3 ke universitas-universitas terbaik di seluruh dunia. Sebenarnya Indonesia termasuk telat bila dibandingkan Cina dan Korea Selatan yang lebih dulu mengirim anak mudanya untuk belajar di luar negeri. Mengaca dari pengalaman dua negara tersebut, para lulusan luar negeri yang kembali pulang dari perantauan menggunakan keahliannya untuk membangun negeri mereka. Di Cina, misalnya, orang-orang yang kembali dari luar negeri banyak menduduki posisi penting di pemerintahan, seperti ketua partai nasional dan komunis, pendiri perusahaan multinasional, dan bahkan menjadi kepala Negara Tirai Bambu itu.

Kemudian di Korea Selatan, yang padahal merdeka di tahun yang sama dengan Indonesia dan tidak memiliki SDA sekaya negara ini, reformasi pendidikan secara menyeluruh telah menaikkan derajat negara Asia tersebut di antara negara-negara maju dunia. Dalam kurun waktu 25 tahun terakhir Korsel begitu jor-joran dalam investasi pendidikan yang hasilnya sekarang dapat dilihat pertumbuhan ekonomi mereka yang begitu pesat. Dr. Soo Bong Uh dari Korea University of Technology and Education berkata, “Alangkah lebih bijaknya bagi setiap anak muda untuk mengivestasikan uang meraka di pendidikan daripada di bank.”

Sumber: http://blog.misteraladin.com/quiz-pahlawan-nasional-indonesia/

Sumber: http://blog.misteraladin.com/quiz-pahlawan-nasional-indonesia/

‘Perang’ di Tanah Air

Melalui LPDP dan banyak program beasiswa lain Indonesia sepertinya ingin mengikuti jejak dua negara maju tersebut. Namun, ada beberapa tantangan baik yang dihadapi negara ataupun para diaspora Indonesia itu sendiri ketika pulang ke pangkuan Ibu Pertiwi. Tantangan-tantangan itu bak ‘perang’ yang harus dimenangkan demi kehidupan negara yang lebih baik. Pertama, salah satu masalah terbesar bagi negara adalah memulangkan para akademisi dan ahli yang telah menggenapkan studinya ke Tanah Air. Cina sendiri coba menggoda para ahlinya yang tidak ingin pulang dengan program “1000 Bakat”, sebuah skema keuangan di mana mereka yang pulang akan mendapatkan subsidi dan tunjangan khusus dari pemerintah. Ironisnya, sebuah studi yang didanai America’s National Science Foundation menemukan bahwa 92% masyarakat Cina yang memiliki gelar PhD dari AS tetap tidak ingin kembali ke negaranya.

Pun Indonesia menganggap serius permasalahan ini. Dalam kunjungannya ke AS berkali-kali Presiden Joko Widodo menyerukan para ahli dan pengusaha Indonesia yang bekerja di Negeri Paman Sam untuk pulang dan berkarir di Indonesia, sampai-sampai dia mengadakan pertemuan khusus dengan para diaspora itu. Selain merancang berbagai tawaran untuk para ekspatriat Indonesia tersebut, dalam hal ini LPDP, yang tentunya tidak mau kecolongan, merancang program-program tertentu untuk mempertahankan alumninya, seperti mewajibkan laporan berkala, pembidikan bakat melalui Talent Pool, informasi lowongan kerja di Indonesia khusus alumni, dan bahkan menaruh klausul “tidak boleh bekerja selama studi” dan “harus pulang ke Indonesia” di kontrak awardee-nya. Namun, masih ada saja beberapa “Ksatria Cendekia”, julukan awardee LPDP, yang ‘menghilang’ dari radar.

Kedua, dukungan pemerintah masih dirasa kurang untuk memaksimalkan potensi alumni luar negeri. Banyak teman-teman saya sesama awardee LPDP, terutama yang berlatar belakang hard science, yang mengeluhkan tidak memadainya fasilitas yang dimiliki negara untuk berkreasi memanfaatkan keahlian mereka. Persoalan ini diperparah dengan birokrasi yang berbelit-belit dan upah yang tak sepadan. Salah satu alumni Australia, dosen saya di sebuah universitas negeri di Jakarta pernah bercerita bahwa gajinya tidak lebih tinggi dari gaji guru les Bimbel. Pasalnya, kebanyakan alumni luar negeri kembali ke kampus asal mereka untuk mengajar dan ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah. Di Korsel guru dan dosen dipandang sebagai salah satu bagian penting dalam reformasi pendidikan di mana mereka harus memiliki kualifikasi mumpuni. Tidak heran jika tenaga pengajar di sana memperoleh gaji tinggi, menempati pringkat ke-10 di antara profesi sejenis di negara-negara lain—menurut data OECD.

Ketiga, nasionalisme dan loyalitas para diaspora Indonesia juga dipertanyakan. Saya kira terlepas dari segala keterbatasan dan permasalahan yang ada di Indonesia, seorang nasionalis sejati akan tetap berkontribusi untuk negaranya dan menanggalkan kepentingan-kepentingan pribadinya. Oleh karenanya LPDP sendiri telah mengambil langkah melalui PK (Persiapan Keberangkatan) untuk menanam nilai-nilai kebangsaan dengan mengundang berbagai tokoh bangsa untuk berdiskusi dengan segenap penerima beasiswa. Tapi, program tersebut hanyalah seremonial 4-6 hari yang cenderung sebatas formalitas. Sepertinya masih sulit untuk menumbuhkan jiwa kebangsaan yang kuat dalam kurun waktu yang hanya sebentar itu. Dalam konteks ini saya melihat pendidikan Pancasila atau kewarganegaraan menjadi sangat penting dalam membangun karakter kebangsaan sejak dini.

Di momen 10 November Hari Pahlawan ini para Ksatria Cendekia diharapkan meluruskan niat dan terlebih meneladani semangat para pahlawan yang telah merelakan harta, tenaga, jiwa dan raga demi bangsa tercinta. Tidak bermasuk menafikan elemen lain yang juga ikut berjuang, sebagai kaum muda yang beruntung mendapatkan pendidikan yang baik harusnya kita tidak boleh cengeng apalagi manja dengan kondisi negara kita. “Equip yourself for life, not solely for your own benefit but for the benefit of the whole community”, begitu petuah Sir John Monash, dan juga, “Jangan tanyakan apa yang telah Indonesia berikan padamu, tapi tanyakan apa yang telah engkau berikan untuk Indonesia.”

 

Oleh:

Aziz Awaludin

MEd in Educational Leadership and Policy at Monash University

Awardee LPDP Kementrian Keuangan BPI PK-62

 

365 total views, 1 views today

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *