Pendidikan Inklusif, Pendekatan Kultural terhadap Pendidikan, dan Cybersecurity di Indonesia: Notulensi Roundtable Discussion LPDP Monash University, Australia

Diskusi Rountable merupakan sebuah wadah dimana para penerima beasiswa LPDP di Monash University berkumpul, mengaktualisasikan, memperluas pandangan dan kritik melalui diskusi isu-isu terkini serta tantangan-tantangan yang dihadapi dengan menggunakan pendekatan-pendekatan dari disiplin ilmu yang beragam. Diskusi ini diadakan setiap bulan, tepatnya pada minggu ke tiga di berbagai kampus Monash University dan akan terus didokumentasikan melalui website resmi LPDP Victoria.

monash-4

Diskusi Roundtable pada Kamis 25 Agustus 2016 yang diadakan di MPA (Monash Postgraduate Association) Office, Monash University tersebut, menghadirkan tiga pembicara yang berasal dari bidang ilmu teknologi informasi dan juga pendidikan. Salah satu tema yang dibahas pada diskusi kali ini yaitu mengenai “Cybersecurity dan tantangannya di Indonesia” yang disampaikan oleh Aulia Sabri, mahasiswa tingkat akhir Master of Technology and Information, Monash University. Aulia, begitu ia biasa disapa, menyampaikan bagaimana kejahatan di dunia maya terus meningkat dari waktu ke waktu.

monash-3

Pada 2012-2014 yang lalu misalnya, cybercrime yang terjadi di Indonesia mencapai jumlah 36.6 juta serangan, yaitu sekitar 42 ribu serangan per hari. Bahkan, berdasarkan State of the Internet pada tahun 2013, Indonesia menjadi urutan kedua negara asal serangan cyber terbanyak setelah Cina yang menduduki posisi pertama. Oleh karea itu, urgensitas Cybersecurity dirasa sangat penting untuk dapat menjauhkan individu, masyarakat, atau bahkan negara dari bahaya cybercrime tersebut. Akan tetapi, kurangnya pengembangan sumber daya manusia di bidang tersebut serta koordinasi yang sangat minim antara badan penelitian dan pemerintah ditengarai menjadi penyebab sulitnya menerapkan cybersecurity.

Oleh karena itu, Aulia menghimbau para peserta diskusi untuk ikut bersama-sama mengambil bagian dalam upaya melawan cybercrime karena menurutnya, “yang menjamin sistem untuk tetap aman bukanlah berasal dari seberapa hebat teknologi yang digunakan, tapi tergantung siapa yang menggunakannya”.

“Don’t judge, but learn the culture”, salah satu kutipan dari materi yang disampaikan Vicca Maria, mahasiswi Master of Education, Monash University. Dalam presentasinya yang berjudul “Experience and identity as a context in education studies”, Vicca menekankan pentingnya pendekatan secara kultural dalam proses pengajaran. Menjadi pengajar di Papua selama 5 tahun, ia berkesempatan mengamati keadaan siswa-siswi di provinsi paling timur Indonesia tersebut. Vicca mendapati bahwa kurangnya penghargaan diri yang disebabkan latar belakang budaya sering kali menjadi faktor yang menghalangi perkembangan siswa-siswi di Papua. Oleh karenanya, menurut Vicca kembali, dibutuhkan pendekatan secara kultural dari 3 pihak utama, yaitu orang tua, guru, dan teman sebaya dalam membantu siswa-siswi meningkatkan penghargaan terhadap diri yang pada akhirnya membantu mereka dalam proses pembelajaran.
roundtable-monash
Apakah pendidikan adalah hak bagi semua orang? Cindarsatio Damarhapsoro yang merupakan mahasiswa Master of Education di Monash University dalam presentasinya “Sistem pendidikan inklusi di Indonesia: dari filosofi ke implementasi”, mengungkapkan keprihatinannya terhadap praktek pendidikan inklusi di Indonesia yang dinilai sangat lambat.
monash-2
Sistem pendidikan inklusi sendiri sudah menjadi topik pembicaraan di dunia sejak 1948 Declaration of human rights dan terus mengalami penyempurnaan hingga diterbitkan Dakar Framework pada 2000. Akan tetapi dalam prakteknya di Indonesia, kebijakan-kebijakan yang ada masih saja mengakui pendidikan yang terpisah-pisah. Kurikulum yang belum jelas, serta kurangnya sistem pendukung yang memadai juga turut menjadi faktor penghambat berjalannya sistem pendidikan inklusi yang ideal. Oleh karena itu, pada akhir presentasi, Cindarsatio berharap agar inklusifitas di Indonesia dapat dikontekstualisasikan kembali karena “kesadaran terhadap pentingnya pendidikan inklusi semestinya berasal dari dalam diri bangsa Indonesia sendiri, bukan hanya mengikuti trend dari luar,” ujar

Cindarsatio. (Melly & Dian)

305 total views, 1 views today

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *