Awardee LPDP itu nyeni lho!

Tidak banyak yang tahu bahwa selain memiliki kualifikasi akademis yang mumpuni, banyak awardee LPDP Victoria juga memiliki jiwa seni. Padahal menurut Buku Panduan Pendaftaran Beasiswa LPDP,  salah satu bidang prioritas yang disasar adalah Bidang Budaya, Seni dan Bahasa. Selain itu, industri kreatif adalah satu dari 18 tema prioritas dalam Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) baik untuk magister maupun doktoral. Lantas bagaimana kisah mereka?

Octora adalah awardee LPDP asal Bandung yang memulai studinya tahun 2016 ini. Berbekal keterampilan seni patung (sculpture) dari Institut Teknologi Bandung, awardee yang juga memiliki gelar Sarjana Hukum dari Universitas Parahyangan ini mengambil program Master of Contemporary Arts di Victorian College of Arts, Melbourne University. Produktivitasnya juga tidak main-main: dua eksebisi telah dilangsungkan sepanjang tahun ini. Prestasinya ini tidak mengherankan mengingat sebelum hijrah ke Melbourne, Octora telah melakukan paling tidak 40 eksebisi—termasuk tiga solo exhibition—sejak tahun 2007.

octora

Gambar 1: Octora (kanan) berdiri di depan karyanya yang tergantung di belakang berjudul “obscure onism”

Ekspresi seni tidak terbatas pada awardee mengambil program seni secara formal di universitas. Sebagai contoh, meskipun sehari-hari mempelajari isu-isu pendidikan di Monash University, namun Muhammad Haekal tetap mampu berkarya dengan membukukan puisi-puisi ciptaannya. Tidak hanya itu, ia juga mentransformasikan penggalan puisi dari bentuk tulisan ke dalam narasi suara. Penyuaraan puisi yang disertai iringan musik dan suara alam ini mampu meneguhkan kekuatan kata yang ada dalam penggalan “Setelah Badai Usai” berikut ini:

Setelah badai usai
Aku membersihkan semua
Batang-batang korek api kita yang jatuh di lantai
Tempat dulu kita duduk
Dan memikirkan masa depan

Setelah badai usai
Aku menggulung semua lembaran
Cerita dan harapan kita
Menyelipkannya di belakang lemari
Berharap tidak punya nyali untuk melihatnya lagi

Setelah badai usai
Aku pergi ke luar
Mengayuh sepeda
Menelusuri jalan-jalan kita dulu
Berharap bisa merelakan semuanya

Setelah badai usai
Aku berpaling dan memaki
Jika ada yang menyebut namamu lagi
Sudahlah kataku,
“Biarkan dia pergi.”

Tidak hanya nyaman ditinggali, kota Melbourne tampaknya memiliki aura yang mendorong jiwa artistik para awardee LPDP Victoria. Syafira Amadea, misalnya, memilih menuangkan ekspresi seninya dalam lantunan nada yang bernuansa jazzy. Akrab dipanggil Taiyo, Syafira juga berkolaborasi dengan musisi lokal seperti Robert Cabrera seperti saat meng-cover lagu Midnight at the Oasis yang dipopulerkan oleh Maria Muldaur pada tahun ’70-an. Tidak hanya itu, Taiyo dan beberapa rekan awardee lain juga kerap melakukan jamming sessions dan turut mempesona awardee yang baru hadir dalam Gathering LPDP Victoria winter 2016 lalu.

Octora, Haekal, dan Taiyo tentu hanya sebagian kecil dari awardee LPDP Victoria yang tidak ragu dalam mengekspresikan spirit seninya. Grup Saman Melbourne dan Saman Bhinneka Indo Arts, misalnya, aktif berpartisipasi dalam berbagai acara di seputar Victoria. Begitu pula dengan grup Lenggok Geni dan Angklung MPM. Klub fotografi yang digawangi Bayun Binantoro, mahasiswa Melbourne University, juga rutin menggelar photo sessions bersama komunitas fotografi Melbourne. Bahkan komunitas nonton bareng Melbourne selalu menyelenggarakan movie screening tiap minggunya di RMIT sebagai bentuk apresiasi terhadap seni perfilman.

 

Sebagai penutup, izinkan saya menukil dua penggal kalimat yang konon berasal dari Nicki Minaj, “You should never feel afraid to become a piece of art. It’s exhilarating.” Selamat berseni!

 

M. Ryan Sanjaya

Clayton, 26 September 2016

577 total views, 1 views today

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *