My Life-changing Experience – Monash Global Discovery Program London 2017

Hi people, kali ini saya ingin berbagi sedikit pengalaman dan cerita selama mengikuti Monash Global Discovery Program London 2017 yang unexpectedly expected and takes me to the next level of my life. Ini juga sekaligus menjawab pertanyaan teman-teman yang  belum punya waktu luang untuk mendengarkan pengalaman saya. Iya, yang pastinya ke London bukan jalan-jalan atau isi pulsa terus pulang, tapi saya mendapatkan banyak manfaat yang mungkin bisa jadi pembelajaran teman-teman juga. Berikut saya uraikan dalam beberapa poin.

 

  1. Just do it!

Beberapa dari teman-teman LPDP telah tahu bagaimana saya memulai mendaftar program ini hingga dinyatakan lulus. Mungkin masih banyak teman-teman yang masih kurang memiliki rasa percaya diri atau takut bakal bikin malu jika ikut program seperti ini (Menggambarkan diri sendiri :D). Berbekal karena hanya termotivasi dengan teman-teman yang aktif dan produktif atau eksis :D, saya langsung mendaftar dengan cara mengupload video ke Youtube berdurasi 30 detik tentang diri saya dan apa yang akan  saya lakukan ketika lulus di program ini. Sampai ke tahap wawancara dan disupervisi oleh dua dosen tercinta, dan satu qaqa inspiratif (Kak Vicca) akhirnya saya dinyatakan lulus. Tidak usah panjang lebar, intinya lakukan apa yang jadi subtitle dari poin ini, yang tentunya juga bisa teman-teman temukan di toko sepatu yang telah sukses dan terkenal dengan merek tanda centangnya. I just do it, you know what? It always seems impossible until it’s done! Yeah… I did it.

 

  1. Kebersamaan dalam keberagaman

Mungkin terdengar sombong, tapi saya harus bilang kalau saya terpilih menjadi satu-satunya mahasiswa asal Indonesia atau lebih tepatnya satu-satunya orang Asia di antara 6 peserta yang berasal dari Australia. Tapi ketahuilah, saya melihat itu bukan suatu kebanggaan melainkan masalah dan tantangan. Ini juga membuat saya tadinya berniat pesimis untuk tidak akan survive dalam program ini. Dan ternyata betul! Saya kewalahan dengan jadwal yang super padat dan kelelahan harus menggunakan ACADEMIC English tiap hari. Saya juga sempat merasa Asing di antara kumpulan Native Speaker from Outer Circle Countries (Kachru, 1985). Tapi di luar itu, semua tertutupi dengan sikap mereka yang sangat respectful dan tidak jarang mengajak dan “memeluk” saya ketika merasa sendirian. Iya mungkin kata “toleransi”lah yang mereka maknai untuk membuat saya nyaman bersama mereka. Enam peserta lainnya dalam program ini adalah warga Australia tapi mereka memiliki dual and multi citizenship yang tentunya kadang membuat perbedaan selama diskusi kelompok. Yang paling mencuri perhatian adalah saya yang sering minta izin dan mengambil spot sendiri jika waktu sholat tiba. Meskipun demikan, mereka mengerti bahwa saya adalah umat beragama. Salah satu contohnya, ketika saya iseng ambil garpu buat santap bacon dan hamburger, dan menuang bir ke gelas di meja gala dinner, mereka marah dan memukul tangan saya. Kesimpulannya, iya, saya minoritas, tapi saya merasa dihargai dan menjadi bagian dari mereka.

 

  1. Open and like-minded people

Monash Global Discovery Program adalah program yang menyeleksi mahasiswa Monash untuk diberangkatkan ke tempat tujuan, kali ini London, untuk bertemu dengan alumni yang bisa dibilang telah sukses dengan karirnya. Selama sepuluh hari, kegiatan yang selalu kami lakukan adalah presentasi dan berdiskusi. Hampir tidak ada waktu bebas buat jalan-jalan dan beli oleh-oleh. Bertemu dengan para CEO, Presiden, Managing Director dan para pemimpin perusahaan lainnya semakin membuka pikiran saya bahwa di atas langit masih ada langit. Yang lebih mengejutkan, mereka tidak serta merta memasang wibawa dan mengangkat dagu. Mereka dengan senang senang hati menyapa, bertanya, and being the good listeners to the brief story of my background expertise and life experience. Mugkin lebih tepatnya, mereka rendah hati, “semakin berisi padi, maka semakin menunduk”. Bayangkan saja, seorang sekelas duta besar rela mengajak saya masuk keliling ruangan pribadinya dan mempersilahkan saya duduk di kursi tempat dia menghabiskan hari kerjanya.

Bukan hanya para alumni tetapi juga para peserta yang selama 10 hari telah menjadi keluarga kecil yang sangat menginspirasi. Mereka hampir tidak pernah menyentuh barang yang acap kali membuat kita tertunduk dan mengabaikan lingkungan sekitar. Bisa dibilang, di antara tujuh peserta, saya lah yang paling sering memegang hand phone, dan mengecek social media. In fact, selama program berlangsung, justru saya merasa  jarang pegang hape, iya.. perasaan saya saja mungkin. Mereka juga lebih banyak menghabiskan waktu untuk berbicara dan mendengarkan orang lain. Pantas saja, selama saya berdiskusi dengan mereka dalam brainstorming session, analoginya seperti processor intel i7 lawan mesin ketik, atau diligent active learners against reluctant passive learner. Lima peserta yang lain meskipun usianya lebih muda dan masih dalam penyelesaian studi undergrad, tapi mereka memiliki pengetahuan yang tidak kalah dengan young adult dan mahasiswa postgrad. Saya bisa lihat di setiap waktu luang mereka membaca buku dan tetap mengerjakan proyek kuliah masing-masing. Selain itu, mereka tidak pernah menertawai kesalahan konteks bahasa Inggris saya yang tidak jarang membuat saya malu sendiri. Justru mereka mengoreksi dengan cara yang tidak menjatuhkan dan tentunya lebih berkelas.

 

Sebenarnya banyak poin lagi yang ingin saya jabarkan, seperti bertambahnya jaringan kampus dan international, leadership, dan workholic people. Tapi tiga poin di atas lah yang paling berkesan selama 10 hari di London. Sebenarnya inti dari program ini adalah Monash University hanya ingin membangun relasi dengan para alumninya dengan mendelegasikan 7 mahasiwanya. Ini bisa jadi contoh buat universitas lain yang ingin mengglobal bahwa menjalin jaringan dengan alumni adalah salah satu faktor sebuah universitas bisa berkembang.

Duduk dalam pesawat berjam-jam, jadwal padat dan kurangnya waktu untuk “bermalas-malasan” menikmati kota London membuat saya sejujurnya merasa lelah. Tapi sebenarnya, saya membawa misi tersendiri dalam program ini yang tentunya selalu membuat rasa lelah itu sendiri merasa lelah. Misi saya sederhana, memperkenalkan Indonesia. Saya merasakan kebanggaan tersendiri, ketika 300 alumni monash standing ovation untuk konten presentasi saya tentang kebudayaan, keberagaman, dan semangat pemuda Indonesia! Haha the ovation was not truly for me, but for INDONESIA… Sampai bertemu di program selanjutnya di New York, July 2017. Keep the fire up, people!

All the best,
Dayut

Sekilas tentang pengalaman saya juga ada di youtube loh >_<

https://www.youtube.com/watch?v=jwUvup4PiRA&t=168s

 

331 total views, 1 views today

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *